Bagaimana Stres Bisa Memicu Kelelahan?

Dilansir dari Huffington Post, Deirdre Conroy, seorang direktur klinis di pusat gangguan tidur Universitas Michigan mengatakan, stres akan mempengaruhi kualitas dan kontinuitas tidur seseorang.

Efeknya, ada beberapa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur, tapi ada juga yang sering terjaga atau terbangun berkali-kali di tengah tidur.

Biasanya stres dikaitkan dengan gejala insomnia. Pasalnya, ketika seseorang terkena paparan stres, maka tubuhnya akan mendorong lebih banyak rangsangan kognitif pada otak. Rangsangan itu mengakibatkan seseorang jadi lebih sulit untuk menenangkan diri dan memikirkan hal-hal yang akhirnya membuat mereka susah memejamkan mata.

Stres juga mengarah pada peningkatan aktivasi sistem saraf simpatik yang kerap disebut sebagai fight or flight response. Fight or flight response merupakan sebuah mekanisme tubuh yang muncul ketika seseorang sedang menghadapi stres atau sebuah situasi yang berbahaya.

Pada saat itulah kelenjar dalam tubuh akan menghasikan hormon epinefrin atau yang lebih dikenal sebagai adrenalin. Hormon adrenalin yang mengalir ke seluruh tubuh akan memberikan efek seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah yang membuat seseorang jadi lebih waspada terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pada saat hormon adrenalin yang dihasilkan dari fight or flight response mulai menurun, tubuh pun akan melepaskan berbagai hormon lainnya seperti kortisol yang merupakan hormon stres utama tubuh. Kadar kortisol yang tinggi akan mendorong tubuh untuk mengisi kembali energi yang hilang selama seseorang mengalami tekanan.

Dengan begitulah tubuh mengirim sinyal berupa rasa kantuk agar bisa membuat seseorang tertidur untuk mengembalikan energi yang telah digunakan.

Memang, tidur untuk melepas penat dan stres bukanlah solusi yang buruk. Namun, jika tindakan ini mulai menjadi kebiasaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ada baiknya Anda melakukan sesuatu untuk mengurangi frekuensinya.

Terkadang, rasa kantuk akibat stres yang dirasakan bisa berasal dari seberapa tingginya kadar glukosa di dalam darah.

Banyak orang yang kerap melampiaskan stresnya dengan mengonsumsi makanan manis dan berkarbohidrat tinggi. Hal ini normal mengingat pada saat stres tubuh juga memerlukan energi dalam bentuk glukosa.

Sayangnya, terlalu banyak konsumsi gula akan mengurangi aktivitas sel orexin sebagai pengatur gairah dan kesadaran. Akibatnya, Anda pun akan merasa mengantuk setelahnya.

Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa Anda lakukan adalah mulai mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat tinggi setiap kali merasa stres.

Tips yang dapat dilakukan ketika merasa stress :

  • Ganti  minuman/makanan ringan manis dengan minum air putih dalam jumlah yang cukup dan makan buah sebagai pengganti.
  • Selingi dengan olahraga untuk kebugaran tubuh di sela-sela jadwal kegiatan Anda. Bergerak lebih aktif sudah dipercaya menjadi cara yang cukup efektif untuk mengurangi rasa kantuk, seperti berjalan kaki juga bisa menjadi pilihan.
  • Tanyakan kembali pada diri sendiri akan hal-hal yang membuat Anda merasa terbebani, bila perlu Anda bisa menulisnya satu persatu di catatan.

Meski tak selalu mudah, menyortir pikiran setidaknya akan membantu Anda untuk lebih mengetahui akar masalah dan solusinya serta menghindarkan Anda dari stres yang dapat memicu kelelahan.

Sumber artikel : https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/bagaimana-stres-picu-kelelahan/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top